Selasa, 23 Oktober 2012
Manusia Lebih Berani Ketimbang Iblis
Dalam kisah Nabi Adam AS, diceritain bahwa Allah SWT murka banget ama Iblis karna nolak perintah Allah SWT untuk sujud ama Nabi Adam AS. Bayangin iblis udah buat Allah SWT murka, cuma karena sekali aja nolak perintah Allah SWT. Bandingin aja ama kita yang berkali-kali nolak perintah Allah SWT untuk sujud ama Allah SWT..
Contohnya aja perintah sholat. waktu Subuh lagi enak-enaknya tidur tuh, boro-boro untuk mandi dan ambil air wudhu. Untuk sekedar buka mata aja beratnya minta ampun. Sholat Dzuhur, siang hari tengah bolong, yang wiraswasta lagi sibuk-sibuknya cari duit, yang kerja lagi enak-enaknya istirahat makan siang, ngobrol sana-sini ama temen sambil ngudad ngudud ledha ledhe. Terus sholat Ashar, sore-sore cocok banget tuh buat nyantai, minum kopi sambil njabur di teras atau maen gaple bareng temen-temen. Nah masuk Magrib, acara di tipi berjubel, tuh acara bagus-bagusnya gak ketulungan ampe bingung milih stasiun tipi, Agak maleman dikit masuk Isya tuh...acara tipi masih bagus. Belom lagi kalo ada temen yang ngajak jalan atawa ada siaran langsung sepak bola. Wah, boro-boro inget ama Sholat Isya, baru sadar Isya kelewat pas Adzan Subuh. Itu juga gak Sholat Subuh, malah ngabisin sisa kopi trus tidur sambil selimutan sarung.
Percaya gak percaya... dalam satu hari aja kita bisa nglanggar perintah Allah SWT ampe sedikitnya lima kali berturut-turut, tanpa punya rasa bersalah atau takut ama murka Allah SWT. Iblis aja waktu Allah SWT murka karena Iblis nolak untuk sujud ke Nabi Adam AS, iblis ampe gemeteran, mukanya ampe kusut rambutnya acak-acakan saking takutnya.
Nah terbuktikan, kalo kita manusia lebih berani ketimbang iblis :) (ysg)
Senin, 22 Oktober 2012
Jajuli Safari, Berjuang Hingga Akhir

Terakhir bertemu setelah lebaran
tahun 2011 dirumahnya di belakang Alfamart kesambi Cirebon. Saat itu dia
mempresentasikan kreasi terbarunya berupa video shooting. Presentasi dimulai
dengan lomba catur tingkat SD di Cirebon, di sana dia mencoba menggabungkan
antara fotografi, video shooting dan musik. Hasilnya cukup menarik untuk sebuah
liputan bergaya feature. Presentasi diakhiri dengan video liputan acara
keluarga saat berziarah ke makam almarhumah ibunya di Kuningan, sebuah liputan
dengan backsound lagu-lagu pop melankolis. Itulah Jajuli Safari, seorang teman,
sahabat dan rekan kerja yang super kreatif. Ide-ide yang tercurah dari
pikirannya cukup banyak dan menarik.
Siapa sangka itu pertemuan
terakhirku dengannya. Jum’at pagi, 7 Oktober 2011, Masham seorang teman
menghubungiku untuk membuka facebook milik Djoe (panggilan kami untuk Jajuli).
Isinya cukup mengejutkan, banyak status ucapan duka cita di dalamnya. Jajuli
meninggal! Berharap itu Cuma berita bohong, aku coba memastikan langsung berita
ini dari keluarganya di Kesambi. Dan ternyata benar, sahabat kami telah
berpulang. Innalillahi Wa Inna Lillahi Rojiuun.
Setahun telah berlalu sejak
kepergiannya, namun namanya tidak pernah hilang dari setiap obrolan kami.
Banyak hal yang mengingatkan kami padanya. Bagi kami Jajuli adalah seorang
pemimpi. Ia mempunyai mimpi besar yang membuatnya tetap bertahan dan tangguh
dalam menghadapi segala tantangan dalam hidupnya. Dengan mimpi besarnya
tersebut, ia menjadi orang yang pantang menyerah yang dengan gigih mencoba
untuk mewujudkan semua mimpi-mimpinya.
Bagi kami Jajuli juga seorang
budayawan, kepeduliannya yang cukup besar terhadap budaya dan tradisi Cirebon
telah memotivasinya untuk mengangkat budaya Cirebon dalam setiap tulisannya.
Harapannya cukup besar, Budaya Cirebon bukan sekedar diminati dikalangan
masyarakat seni Cirebon saja, tapi menjadi budaya yang populer bukan hanya bagi
masyarakat cirebon tapi bagi masyarakat lain di luar Cirebon.
Jajuli juga seorang jurnalis yang
idealis, ia banyak bekerja di tabloid-tabloid baru yang sebagian besarnya
wartawannya money oriented, tapi tidak bagi Jajuli, ia tetap berkomitmen
bahwa seorang jurnalis adalah seorang agen pembawa perubahan, yang harus
konsisten membawakan pesan-pesan positif bagi masyarakat pembacanya. Jajuli
juga seorang Freelance Journalist yang tangguh, ia tetap menulis apapun
yang dianggapnya penting untuk diketahui oleh masyarakat, tanpa berpikir berapa
rupiah yang dia dapat dari tulisannya tersebut.
Jajuli adalah seorang sahabat
yang hangat, ini terbukti dengan begitu banyak teman yang dimilikinya dari
berbagai kalangan. Tidak bisa kami lupakan setiap kali berkunjung ke rumahnya,
dia selalu menyuguhi kami dengan kopi panas dan rokok produksi “pabriknya”.
Jika dia kehabisan stock rokoknya, dia akan berkata “Sorry om pabriknya lagi
tutup.” sambil menunjuk alat pelinting tembakau, yang menurutnya diperoleh dari
adiknya di Surabaya. Sejak memiliki alat pelinting tembakau tersebut, dia
jarang membeli rokok jadi, dia biasa membuatnya sendiri dengan membeli tembakau
dan kertas rokok di toko tembakau langganannya. “Biar hemat tapi tetap sehat”
komentarnya sambil melinting tembakau.
Jajuli juga seorang ayah yang
sangat bertanggungjawab, ia sering bercerita pada kami tentang Dhio, anak
tunggalnya. Segala usaha dan jerih payah yang ia lakukan selama ini, ia
dedikasikan untuk masa depan anak semata wayangnya tersebut.
Jajuli Safari, sepanjang
sepengetahuan kami para sahabatnya, telah banyak yang dilakukan oleh pria
tangguh kelahiran 19 Mei 1968 itu. Hingga akhir hayatnya ia masih menggenggam
kuat mimpi besarnya itu. Mungkin ia belum berhasil untuk mewujudkannya, namun
upaya yang telah dilakukannya adalah bukti dari kesungguhannya. Kami yakin kreativitas dan kegigihan yang
dimilikinya telah memotivasi siapapun yang kenal dekat dengannya. Kini setahun
telah berlalu sejak kepergiannya. Semoga Allah mengampuni segala kesalahannya
dan menjadikan segala kebaikannya menjadi jalan untuk memperoleh tempat terbaik
di sisi-Nya. Amiin (ysg)
Jumat, 19 Oktober 2012
“Karena Kamu Murah, Sponge Bob”
Setiap pagi, pekerjaan rutin saya
adalah menemani anak nonton film kartun
Sponge Bob. Film produksi Amerika yang bercerita tentang sponge laut dan
teman-temannya itu memang film anak-anak, namun seperti kebanyakan film kartun
produksi Paman Sam lainnya, karakter dan dialog di dalamnya tidak cocok untuk
dikonsumsi oleh anak-anak.
Hingga pagi itu sebuah dialog
dalam film kartun tersebut membuatku begitu tercengang. Diceritakan bahwa
mantan koki di Crusty Crab, tempat Sponge Bob bekerja datang berkunjung, koki
tersebut saat ini sudah menjadi seorang chef yang sukses. Dia pernah bekerja di
hampir semua restaurant dan hotel terkenal di dunia. Mr Crab sebagai majikan
Sponge Bob selalu memuji-muji kepiawaian chef tersebut di depan Sponge Bob dan
hal ini membuat Sponge Bob menjadi khawatir chef tersebut akan menggeser
posisinya di Crusty Crab, karena dia sangat mencintai pekerjaannya.
Kekhawatiran Sponge Bob terbaca
juga oleh Mr Crab, dengan bijaksana dia memberikan penjelasan kepada Sponge
Bob, bahwa dia akan tetap mempekerjakan
Sponge Bob sebagai kokinya.
“Kamu tahu kenapa aku
memperkerjakanmu Sponge Bob?” tanya Mr Crab sambil menepuk pundak Sponge Bob
(memangnya Sponge Bob punya pundak ya?). Sponge Bob pun tersenyum dengan mata
yang berbinar-binar.
“Karena kamu murah Sponge Bob.”
Mr Crab menjawab pertanyaannya sendiri dengan nada datar dan senyum Sponge Bob
pun semakin lebar, matanyapun tidak hanya berbinar-binar tapi juga
berkaca-kaca.
Kenapa aku tercengang? Karena
sepengetahuanku Sponge Bob adalah karyawan yang penuh loyalitas dan dedikasi
tinggi terhadap pekerjaannya, ia melakukan pekerjaannya tersebut bukan karena
kewajiban sebagai seorang pekerja atau karena ia butuh pekerjaan, tetapi ia
melakukannya karena begitu mencintai pekerjaannya tersebut, karena itulah
Sponge Bob sangat profesional dalam menjalankan pekerjaannya.
Dalam kehidupan nyata, jika
benar-benar ada orang semacam ini, maka patut disayangkan. Pekerja dengan
kualitas seperti Sponge Bob, dipakai bukan karena profesionalitas dan
integritas yang dimilikinya tapi karena dia murah!!!
Jika kita memiliki kemampuan
seperti itu, maka kita harus lebih menghargai diri kita. Jangan “menjual diri”
kita dengan begitu murah. Jika tempat kerja kita saat ini sudah tidak dapat
menghargai profesionalitas kita atau dengan kata lain memberikan kita harga
yang tidak layak, maka sudah waktunya kita mencari tempat kerja lain yang mampu
menghargai kita sesuai dengan profesionalitas yang kita miliki.
Sebagai seorang pekerja, kadang
kita enggan pindah ketempat lain dengan alasan kita sudah merasa nyaman dengan
lingkungan dan teman-teman kerja kita. Perasaan inilah yang selalu menjadi
dinding tebal bagi kita untuk melongok ketempat lain. Padahal bisa jadi ada
tempat yang jauh lebih baik bagi kita untuk bekerja, baik dari segi kenyamanan
maupun dari segi pendapatan.
Atau jika kita masih kerasan dengan tempat kita bekerja saat ini, buatlah target untuk kedepannya, seperti mengincar posisi yang lebih tinggi atau make a deal untuk mendapatkan benefit yang lebih baik. biasanya jika perusahaan telah melihat potensi yang kita miliki, manajemen lebih suka mempromosikan kita atau memberikan kita kenaikan gaji, daripada harus merekrut orang baru. karena itu jangan pernah ragu untuk membuat kesepakatan.
Namun jika ditempat kerja kita saat ini
tetap tidak ditemukan jenjang karir yang sesuai buat mengakomodir kemampuan kita. Jangan takut untuk dijuluki kutu
loncat karena seringnya berpindah-pindah tempat bekerja, karena ini adalah
realitas yang lumrah terjadi di dunia kerja, maka bidiklah jenjang karir yang lebih tinggi di perusahaan lain yang tentunya
dengan benefit yang jauh lebih baik. Jangan jadikan diri kita seperti Sponge
Bob, karena Sponge Bob diciptakan dengan rongga kepala besar namun dengan otak
yang kecil. (ysg)
Cirebon, 19 Oktober 2012
Metamorfosis V
Aku terus mendekat
Sesuatu yang hangat bertambah rasa panas
Aku yakin itu cahaya!!!
Aku terus mendekat dengan rasa panas yang
menyayat
Ini bukan hanya cahaya!
Ini sumber cahaya! Aku telah menemukan
sumber cahaya!
Teriakku dengan tubuh yang menguap
Aku merasakan rasa hangat yang semakin
panas
Aku rasakan panas menyengat yang berangsur
dingin
Dingin?
Aku rasakan dingin dan semakin dingin
Dimana rasa hangat itu? Aku kehilangannya!
Aku kehilangan cahaya yang baru saja
kutemukan
Aku merasakan sebuah selimut dingin yang
memelukku
Dan sayapku semakin mengepak ringan
Mengajakku terbang menembus jutaan cahaya
Yang tak memiliki rasa hangat
Aku sirna dalam mimpi-mimpiku
(Cirebon, Penghujung Mei 2009)
Metamorfosis IV
Aku tidak seperti berada dalam diriku
Tapi aku tidak peduli siapa aku sekarang!
Yang penting aku dapat menemukan cahaya
Sebagai tujuan hidup yang tak pernah aku
mengerti
Aku terus melayang mencari cahaya dengan
pendengaran
Aku terus mengepakkan sayapku
Mencoba bertahan dari ketidak pastian
Hingga aku merasakan sesuatu yang hangat
dan semakin hangat
Bertambah dekat terasa yakin dalam
kosongnya jiwaku
Aku yakin itu cahaya
Aku dapat merasakannya bukan dengan
penglihatanku atau pendengaranku
Tapi dengan hatiku
Aku telah menemukan cahaya!!!
(Cirebon, Penghujung Mei 2009)
Metamorfosis III
Sesuatu yang hangat membungkus tubuh
lunakku
Apakah itu cahaya?
Entah siapa yang tahu
Aku merasa sesuatu yang kering merayapi
tubuhku
Menjalar dari dalam jantungku mengoyak
kulit kesadaranku
Dan kubiarkan darahku pasrah mengalir di
sungai-sungai kecilnya
Serupa rahim ibu membungkus seluruh tubuhku
Kubiarkan diri ini terlelap dalam hangatnya
Hingga satu pagi sepasang sayap mengoyak
dinding serupa rahim
Dan sepasang sayap itu muncul dari
punggungku
Sayap? Dari mana aku tahu kalau itu sayap?
Bahkan aku tak memiliki satu matapun untuk
melihatnya!
Tidak! Aku yakin kalau itu sepasang sayap
Aku bisa merasakannya
Aku bisa mengepakannya
Lihatlah seandainya kau juga memiliki mata
Maka lihatlah dengan matamu
Ini adalah sepasang sayap yang siap
menerbangkanku
Sepasang sayap yang akan menghantarku pada
mimpi-mimpiku
(Cirebon, Penghujung Mei 2009)
Langganan:
Komentar (Atom)







